Pages

Showing posts with label Model Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Model Pembelajaran. Show all posts

Thursday, January 7, 2016

Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT yang terbaru



     TGT merupakan salah satu dari beberapa model pembelajaran kooperatif. Penekanan pembelajaran kooperatif tipe TGT terletak pada kerjasama antar anggota kelompok dalam menyumbangkan skor terhadap kemajuan nilai kelompok di samping nilai individu.
            Pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki komponen-komponen sebagai berikut:
a.       Presentasi kelas
Guru menerangkan garis besar materi di depan kelas dan siswa memperhatikan dengan seksama. Ketika selesai mengerjakan lembar kerja kelompok (LKS), salah seorang siswa mempresentasikan hasil jawaban kelompoknya ke depan kelas dan siswa lainnya memberikan tanggapan atas jawaban tersebut. Selama presentasi kelas setiap siswa harus benar-benar memperhatikan penjelasan guru ataupun temannya. Hal ini akan sangat membantu keberhasilan siswa saat turnamen.
b.      Kelompok
Siswa terdistribusi dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Setelah guru menjelaskan materi, setiap kelompok mengerjakan lembar kerja kelompok, berdiskusi memecahkan masalah bersama-sama, mencocokkan jawaban, membantu teman untuk memperbaiki kesalahannya. Setiap anggota kelompok harus yakin bahwa dirinya benar-benar telah menguasai materi, mempertanggungjawabkannya dalam presentasi kelas, dan mempersiapkan diri dalam turnamen.

c.       Turnamen Akademik
Pelaksanaan turnamen akademik adalah ciri khas dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT. Kelompok heterogen dirombak untuk sementara waktu dan kemudian dibentuk kelompok yang homogen dalam hal tingkat kecerdasan. Anak yang cerdas dari setiap kelompok digabungkan dalam meja 1, anak yang sedang digabungkan dalam meja 2 dan meja 3, dan anak yang rendah digabungkan dalam meja 4. Hal ini dijelaskan dalam gambar tentang mekanisme turnamen berikut ini:


 
Gambar Mekanisme Turnamen

Siswa yang homogen duduk dalam satu meja turnamen untuk menjawab pertanyaan yang ada di meja tersebut secara bergiliran. Apabila siswa yang mendapat giliran pertama menjawab dengan benar maka ia akan mendapatkan kartu kemenangan yang di dalamnya terdapat poin. Namun jika jawabannya salah maka siswa lain (penantang) dalam kelompok itu boleh menjawab. Apabila jawaban penantang itu benar, maka kartu kemenangan menjadi miliknya dan jika jawabannya salah maka ia harus merelakan nilainya berkurang. Pada saat pertandingan usai, siswa menghitung nilai yang diperolehnya  yang tertera di kartu kemenangan dan  ditulis pada papan nilai sebagai nilai individu. Peserta yang mendapatkan nilai terbanyak meraih tingkat 1 (top scorer), peserta yang memperoleh terbanyak kedua meraih tingkat 2 (high middle scorer), peserta yang memperoleh terbanyak ketiga meraih tingkat 3 (low middle scorer), dan peserta yang memperoleh nilai terkecil meraih tingkat 4 (low scorer). Perolehan poin ditunjukkan pada Tabel 1, Tabel 2, dan Tabel 3 (Slavin, 1995: 90) di bawah ini:
Tabel 2.1
 Perolehan Poin untuk Empat Pemain

Tingkatan Pemain

Tidak ada seri
Tingkat
1-2
seri
Tingkat
2-3
seri
Tingkat
3-4
seri
Tingkat
1-2-3
seri
Tingkat 2-3-4
seri
Tingkat
1-2-3-4  seri
1-2 Seri
3-4 Seri
1
(high scorer)

60

50

60

60

50

60

40

50
2
(High  middle scorerr)

40

50

40

40

50

30

40

50
3
(low middle scorer)

30

30

40

30

50

30

40

30
4
(low scorer)

20

20

20

30

20

30

40

30

            Tabel 2.1 di atas memperlihatkan aturan perolehan poin untuk pemain yang terdiri dari empat orang. Jika tidak ada seri di antara keempat pemain, maka pemain tingkat 1 memperoleh skor 60, pemain tingkat 2 memperoleh skor 40, pemain tingkat 3 memperoleh skor 30, dan pemain tingkat 4 memperoleh skor 20. Jika pemain tingkat 1 dan tingkat 2 seri, maka kedua pemain tersebut memperoleh skor 50, sedangkan pemain tingkat 3 memperoleh skor 30 dan pemain tingkat 4 memperoleh skor 20. Jika pemain tingkat 2 dan tingkat 3 seri, maka pemain tingkat 1 memperoleh skor 60, pemain tingkat 2 dan tingkat 3 memperoleh skor 40, sedangkan pemain tingkat 4 memperoleh skor 20. Jika pemain tingkat 3 dan tingkat 4 seri, maka pemain tingkat 1 memperoleh skor 60, pemain tingkat 2 memperoleh skor 40, dan pemain tingkat 3 dan tingkat 4 memperoleh skor 30. Jika pemain tingkat 1, tingkat 2, dan tingkat 3 seri, maka ketiga pemain tersebut memperoleh skor 50, sedangkan pemain tingkat 4 memperoleh skor 20. Jika pemain tingkat 2, tingkat 3, dan tingkat 4 seri, maka pemain tingkat 1 memperoleh skor 60, sedangkan ketiga pemain yang seri memperoleh skor 30. Jika semua pemain seri, maka masing-masing pemain memperoleh skor 40. Jika pemain tingkat 1 dan tingkat 2 seri, dan pemain tingkat 3 dan tingkat 4 seri, maka pemain tingkat 1 dan tingkat 2 memperoleh skor 50, sedangkan pemain tingkat 3 dan tingkat 4 memperoleh skor 30.
Tabel 2.2
 Perolehan Poin untuk Tiga Pemain
Tingkatan Pemain
Tidak ada seri
Tingkat
1-2 seri
Tingkat
 2-3 seri
Tingkat
1-2-3 seri
1
( Top Scorer )

60

50
60
40
2
(Middle Scorer)

40

50

30

40
3
( Low scorer )

20

20

30

40

            Tabel 2.2 di atas memperlihatkan aturan perolehan poin untuk pemain yang terdiri dari tiga orang. Jika tidak ada seri di antara ketiga pemain, maka pemain tingkat 1 memperoleh skor 60, pemain tingkat 2 memperoleh skor 40, dan pemain tingkat 3 memperoleh skor 20. Jika pemain tingkat 1 dan tingkat 2 seri, maka kedua pemain tersebut memperoleh skor 50, sedangkan pemain tingkat 3 memperoleh skor 20. Jika pemain tingkat 2 dan tingkat 3 seri, maka pemain tingkat 1 memperoleh skor 60, pemain tingkat 2 dan tingkat 3 memperoleh skor 30. Jika semua pemain seri, maka masing-masing pemain memperoleh skor 40.
Tabel 2.3
 Perolehan Poin untuk Dua Pemain
Tingkatan Pemain
Tidak ada seri
Tingkat
1-2 seri
1
( Top Scorer )

60

40
2
( Low scorer )

20

40

Tabel 2.3 di atas memperlihatkan aturan perolehan poin untuk pemain yang terdiri dari dua orang. Jika tidak ada seri di antara kedua pemain, maka pemain tingkat 1 memperoleh skor 60 dan pemain tingkat 2 memperoleh skor 20. Jika kedua pemain seri, maka masing-masing pemain memperoleh skor 40.
Dalam turnamen selanjutnya, diusahakan pembagian meja berdasarkan perolehan poin pada turnamen dengan tetap beranggotakan kelompok yang memiliki tingkat kepintaran yang sama (homogen).
d.     Penghargaan kelompok
Nilai kelompok dihitung berdasarkan rata-rata nilai yang diperoleh setiap anggota kelompok heterogen semula. Untuk kelompok yang memperoleh nilai rata-rata mencapai kriteria tertentu maka diberikan penghargaan berupa sertifikat atau bisa juga dalam bentuk lainnya. Pemberian penghargaan ini dimaksudkan untuk memberi rangsangan bagi siswa untuk lebih giat dalam belajar, agar pada turnamen berikutnya dapat memperoleh nilai yang baik hingga dapat menyumbang skor bagi kelompoknya.
Kriteria penghargaan kelompok (Slavin, 1995: 90) seperti pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4
Kriteria Penghargaan Kelompok
Nilai
Predikat
Nilai  50
Super Team
45  Nilai < 50
Great Team
40  Nilai < 45
Good Team

e. Bumping (pergeseran)
            Setelah turnamen pertama dilaksanakan selanjutnya dilakukan pergeseran posisi (bumping) untuk setiap siswa pada meja turnamen. Pergeseran ini selalu dilakukan setiap selesai dilaksanakannya turnamen akademik, untuk mengatur posisi siswa pada meja turnamen dalam kompetisi berikutnya. Pergeseran posisi tersebut dilakukan berdasarkan skor yang diperoleh siswa pada turnamen yang telah dilaksanakan (skor siswa ditulis pada lembar pencatatan skor). Pada intinya dilakukannya pergeseran ini adalah untuk menempatkan siswa yang memenangkan turnamen ke meja turnamen dengan tingkatan yang lebih tinggi sedangkan siswa yang kalah digeser pada meja turnamen yang mempunyai tingkatan lebih rendah dari meja turnamen semula.

Wednesday, January 6, 2016

Pembelajaran Open Ended yang paling efektif



Guru yang profesional adalah guru yang selalu berpikir akan dibawa ke mana anak didiknya, serta dengan apa mengarahkan siswanya untuk mencapai hasil yang diinginkan dengan berbagai inovasi pembelajarannya. Pembelajaran matematika misalnya, sangat ditentukan oleh strategi atau pendekatan mengajar guru matematika. Salah satu pembelajaran matematika yang mendorong siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya berdasarkan definisi dan teori yang diperoleh sebelumnya sehingga mampu meningkatkan kemampuan koneksi matematis dan berpikir kreatif siswa. Pembelajaran ini mampu memberikan cara penyelesaian yang berbeda-beda dan memungkinkan jawaban lebih dari satu. Pembelajaran matematika inilah merupakan bentuk pembelajaran open ended.
A. Pengertian Open Ended
Dalam penelitian ini peneliti menawarkan pembelajaran open ended atau disebut juga pembelajaran terbuka. Pembelajaran open ended mulai dikembangkan di Jepang pada tahun 70-an, dan semenjak itu guru-guru di Jepang menggunakan pembelajaran ini dalam pembelajaran matematika di sekolah. Shimada (Mahmudi, 2008:2-14) mengatakan bahwa:
”Pembelajaran open ended adalah pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian yang benar lebih dari satu. Pembelajaran open ended dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetauan/pengalaman menemukan, mengenali, dan memecahkan masalah dengan beragam tekhnik ”
Sedangkan Sudiarta (Lambertus, dkk. 2013:75) mendefenisikan pembelajaran open ended dapat dirumuskan sebagai masalah atau soal-soal matematika yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga memiliki beberapa atau bahkan banyak solusi yang benar, dan terdapat banyak cara untuk mencapai solusi itu. Hudiono (Lambertus, dkk. 2013:75) menyebutkan pembelajaran open ended dalam pembelajaran matematika bertujuan menciptakan suasana pembelajaran agar siswa memperoleh pengalaman dalam menemukan sesuatu yang baru melalui proses pembelajaran. Tujuan pembudayaan pembelajaran open ended adalah membantu mengembangkan aktivitas dan berpikir matematik siswa secara serempak dalam pemecahan masalah. Selain itu menurut Paduppai (Lambertus, dkk. 2013:75) tujuan pembelajaran open ended yaitu, agar kemampuan berpikir matematika siswa dapat berkembang secara maksimal, dan pada saat yang sama kegiatan-kegiatan kreatif setiap siswa terkomunikasikan melalui proses pembelajaran. Pembelajaran ini diharapkan masing-masing siswa memiliki kebebasan dalam memecahkan masalah menurut kemampuan dan minatnya, siswa dengan kemampuan yang lebih tinggi mengambil bagian dalam berbagai aktivitas matematika, dan siswa dengan kemampuan yang lebih rendah masih dapat menyenangi aktivitas matematika menurut kemampuan-kemampuan mereka sendiri.
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran open ended adalah rangkaian dari pembelajaran yang dimulai dengan memberikan permasalahan kepada siswa dimana permasalahan tersebut diselesaikan dengan pengetahuan, keterampilan yang ada pada diri siswa itu sendiri sehingga akan menambah pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru.
Dipandang dari strategi bagaimana materi pelajaran disampaikan, pada prinsipnya pembelajaran open ended sama dengan pembelajaran berbasis masalah yaitu suatu pembelajaran yang dalam prosesnya dimulai dengan memberi suatu masalah kepada siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Shimada (Pirdaus, dkk. 2010:82) mengatakan pembelajaran open ended mengemukakan bahwa open ended problem is a problem that has several ways to the correct answer. suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dari mengenalkan atau menghadapkan siswa pada masalah open ended. Pembelajaran dilanjutkan dengan menggunakan banyak jawaban yang benar dari masalah yang diberikan untuk memberikan pengalaman kepada siswa dalam menemukan sesuatu yang baru di dalam proses pembelajaran. Dengan kegiatan ini diharapkan pula dapat membawa siswa untuk menjawab permasalahan dengan banyak cara, sehingga mengundang potensi intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru. Dengan demikian pembelajaran akan mengembangkan kemampuan koneksi matematis siswa dalam pemecahan masalah matematika.Hal ini sejalan dengan pandangan belajar teori belajar kontruktivisme, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama mengemukakan bahwa pelajar dengan umur berapapun terlibat secara aktif dalam proses mendapatkan informasi dan mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri. Pengetahuan tidak statis, tetapi berevolusi dan berubah secara konstan selama pelajar mengonstruksikan pengalaman-pengalaman baru yang memaksa mereka untuk mendasarkan diri pada dan memodifikasi pengetahuan sebelumnya (Arends, 2008:47).
Pada pembelajaran open ended masalah yang diberikan adalah masalah yang bersifat terbuka (open ended problem) atau masalah tidak lengkap (incomplete problem). Menurut Suherman, dkk (2003:123) problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem tak lengkap atau disebut juga open ended problem atau soal terbuka. Siswa yang dihadapkan dengan open ended problem, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban. Dengan demikian bukanlah hanya satu pendekatan atau metode dalam mendapatkan jawaban, namun beberapa atau banyak.
Menurut Suherman, dkk. (2003:124) mengemukakan bahwa dalam kegiatan matematika dan kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi ketiga aspek berikut:
1. Kegiatan siswa harus terbuka

Yang dimaksud kegiatan siswa harus terbuka adalah kegiatan pembelajaran harus mengakomodasi kesempatan siswa untuk melakukan segala sesuatu secara bebas sesuai kehendak mereka.
2. Kegiatan matematika merupakan ragam berpikir

Kegiatan matematika adalah kegiatan yang di dalamnya terjadi proses pengabstraksian dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari ke dalam dunia matematika atau sebaliknya.
3. Kegiatan siswa dan kegiatan matematika merupakan satu kesatuan

Kegiatan siswa dan kegiatan matematika dikatakan terbuka secara simultan dalam pembelajaran, jika kebutuhan dan berpikir matematika siswa terperhatikan guru melalui kegiatan-kegiatan matematika yang bermanfaat untuk menjawab permasalahan yang lainnya. Ketika siswa dihadapkan pada masalah open ended, tujuannya bukan hanya berorientasi pada mendapatkan jawaban atau hasil akhir tetapi lebih menekankan pada proses bagaimana siswa sampai pada suatu jawaban, siswa dapat mengembangkan metode, cara atau pendekatan yang berbeda untuk menyelesaikan masalah.
Makna aktivitas interaksi antara ide-ide matematika dan perilaku-perilaku siswa disebut terbuka dalam memecahkan masalah dapat dijelaskan dari tiga aspek: (1) aktivitas siswa dikembangkan melalui pendekatan terbuka, (2) suatu masalah yang digunakan dalam pembelajaran open ended melibatkan ide-ide matematika, (3) pembelajaran open ended harus selaras dengan aktivitas interaksi antara (1) dan (2). Aktivitas siswa dan ide-ide matematika dikatakan selaras, jika kebutuhan dan berpikir matematika siswa terperhatikan guru melalui kegiatan kegiatan matematika yang bermanfaat untuk menjawab permasalahan. Dengan demikian pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran open ended bukan hanya memberikan masalah-masalah terbuka kepada siswa untuk diselesaikan namun dalam proses pembelajarannya harus menjamin kemampuan berpikir kreatif siswa.
B. Langkah-langkah Pembelajaran Open Ended

Setelah guru mengkonstruksi masalah open ended, guru perlu mempertimbangkan tiga hal berikut, sebelum masalah itu ditampilkan di kelas sebagai awal dari pembelajaran, yaitu: (1) apakah masalah tersebut kaya dengan konsep-konsep matematika, (2) Apakah level matematika dari masalah cocok untuk siswa dan (3) apakah masalah itu dapat mengembangkan konsep matematika lebih lanjut Masalah yang dibuat harus dapat mendorong siswa berpikir dalam berbagai pandangan yang berbeda, sehingga masalah tersebut harus kaya akan konsep-konsep matematika yang dapat dipecahkan dengan berbagai strategi yang sesuai untuk siswa berkemampuan tinggi, maupun rendah. Tingkat kesulitan masalah juga harus cocok dengan kemampuan siswa, karena ketika mereka akan menyelesaikan masalah open ended mereka harus menggunakan pengetahuan atau keterampilan yang telah mereka ketahui sebelumnya. Hal lainnya yang harus dipenuhi adalah masalah yang dibuat harus memiliki keterkaitan dengan konsep-konsep matematika yang lebih tinggi.
Apabila guru telah menyusun suatu masalah open ended dengan baik, langkah selanjutnya adalah mengembangkan rencana pembelajaran. Pada tahap ini hal-hal yang perlu diperhatikan adalah.
a.      Tuliskan respon siswa yang diharapkan
Siswa diharapkan merespon masalah open ended yang diberikan dengan berbagai cara, oleh karena itu guru perlu menuliskan daftar antisipasi respon siswa terhadap masalah. Hal ini diperlukan mengingat kemampuan siswa dalam mengekspresikan ide mereka terbatas, mungkin mereka tidak dapat menjelaskan aktivitas mereka dalam menyelesaikan masalah, mungkin pula mereka dapat menjelaskannya dengan baik. Antisipasi respon siswa yang dibuat guru merupakan suatu upaya mengarahkan dan membantu siswa memecahkan masalah sesuai dengan cara dan kemampuannya
b.      Tujuan yang harus dicapai dari masalah yang diberikan harus jelas.
Guru harus benar-benar memahami peran masalah dalam keseluruhan rencana pembelajaran. Apakah masalah yang akan diberikan kepada siswa diperlakukan sebagai rangkuman dari kegiatan belajar siswa. Berdasarkan berberapa hasil penelitian masalah open ended efektif digunakan untuk koneksi matematis siswa atau dalam merangkum kegiatan belajar.
c.       Lengkapi dengan prinsip problem posing sehingga siswa dapat memahami maksud dari masalah tersebut dengan mudah atau dapat memahami apa yang diharapkan dari mereka.

Masalah yang disajikan harus memuat informasi yang lengkap sehingga siswa dapat memahaminya dengan mudah dan dapat menemukan pemecahannya. Siswa dapat mengalami kesulitan memahami masalah dan memecahkannya apabila penjelasan masalah terlalu ringkas. Hal ini dapat saja terjadi karena guru bermaksud memberi kebebasan yang cukup kepada siswa untuk memilih cara dan pendekatan pemecahan masalah atau karena siswa hanya memiliki sedikit pengalaman belajar, atau bahkan sama sekali tidak memilikinya akibat terbiasa mengikuti petunjuk pada buku teks. Untuk menghindari kesulitan yang dihadapi siswa maka guru harus memberikan perhatian khusus dalam menyajikan masalah.
d.      Sajikan masalah semenarik mungkin.

mengingat pemecahan masalah open ended memerlukan waktu untuk berpikir, maka konteks permasalahan yang disampaikan harus dikenal baik oleh siswa dan harus menarik perhatian serta membangkitkan semangat intelektual.
e.       Berikan waktu yang cukup kepada siswa untuk mengeksplorasi masalah.

Guru harus memperhitungkan waktu yang dibutuhkan siswa untuk memahami masalah, mendiskusikan kemungkinan pemecahannya, dan merangkum apa yang telah dipelajari. Berdiskusi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru merupakan interaksi yang sangat penting dalam pembelajaran open ended.
Pembelajaran open ended, guru harus berhati-hati dalam mengalokasikan dan mengatur waktu karena mungkin saja siswa menanggapi dengan banyak respon, baik yang sesuai harapan maupun yang tidak, dan semua itu harus didiskusikan dan disimpulkan. Karena itu disarankan pembelajaran ini disusun dalam dua tahap, yakni
Tahap pertama:
Bekerja individual dalam menyelesaikan masalah yang diberikan guru di awal pembelajaran untuk seluruh siswa di kelas. Setiap siswa diberikan kertas kosong sebagai tempat untuk mereka menuliskan ide-idenya. Kertas-kertas tersebut dikumpulkan yang berguna untuk guru mempersiapkan kesimpulan dari respon individu. Kemudian dalam kelompok yang terdiri atas empat orang siswa, mereka mendiskusikan hasil pekerjaan individunya dan perwakilan kelompok menuliskan hasil diskusi kelompoknya.
Tahap kedua:
Hasil dari masing-masing kelompok dipresentasikan dan didiskusikan. Kemudian pembelajaran disimpulkan

Langkah-langkah pembelajaran open ended disajikan dalam tabel berikut:
Tabel. Langkah-Langkah Pembelajaran Open Ended

No.
Indikator
Perilaku guru
1
Menyajikan masalah
Memberikan problem terbuka kepada siswa, sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk melakukan segala sesuatu secara bebas sesuai kehendak mereka.
2
Pengorganisasian pembelajaran
Guru mengarahkan siswa untuk menumbuhkan orisinilitas ide, berpikir kreatif, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi.
3
Perhatikan dan catat respon siswa
Guru harus menyiapkan atau menuliskan daftar antisipasi respons siswa terhadap masalah. Sehingga siswa dapat mengekspresikan ide atau pikirannya sebagai upaya mengarahkan dan membantu siswa memecahkan masalah sesuai dengan cara kemampuannya.
4
Bimbingan dan pengarahan
Guru memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban sehingga jawaban siswa seragam.
5
Membuat kesimpulan
Siswa diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut.

Berdasarkan uraian tentang pembelajaran open ended, maka secara garis besar langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut. Langkah pembelajaran meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Kegiatan inti mencakup memberikan masalah, merekam respon yang diharapkan dari siswa, pembahasan respon siswa, dan meringkas apa yang telah dipelajari.


C. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Open Ended
Berdasarkan ciri-ciri dan langkah pembelajaran open ended, terlihat bahwa terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dalam pembelajaran ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Suherman, dkk (2003:132), bila pembelajaran open ended digunakan dalam pembelajaran di sekolah, setidaknya ada lima keuntungan yang dapat diharapkan, yaitu:
1.Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam proses pembelajaran dan mereka dapat mengungkapkan ide-ide mereka secara lebih sering, sehingga siswa tidak hanya pasif dengan hanya menggunakan cara yang dicontohkan oleh gurunya.
Siswa mempunyai kesempatan yang lebih luas dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan matematika mereka secara komperehensif. Mereka memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimiliki sebelumnya.
2.Setiap siswa dapat menjawab permasalahan dengan caranya sendiri, demikian pula siswa yang berkemampuan rendah, mereka dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri.
3.Siswa secara instrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan atas jawaban permasalahan yang diberikan.
4.Siswa memiliki banyak pengalaman dalam menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan dan menerima masukan-masukan dari teman-temannya.
Di samping keunggulan yang dapat diperoleh dari pembelajaran open ended terdapat pula beberapa kelemahan, antara lain.
1.Membuat dan menyiapkan masalah matematika yang bermakna bagi siswa adalah cukup sulit.
2.Cukup sulit bagi guru untuk mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa. Terkadang siswa mengalami kesulitan untuk memahami masalah dan memberikan respon yang tidak signifikan secara matematis
3.Siswa yang berkemampuan tinggi terkadang merasa ragu dan mencemaskan jawaban mereka.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran open ended adalah suatu pembelajaran yang dalam prosesnya dimulai dengan memberikan masalah kepada siswa yang bersifat terbuka dan bertujuan membangun kegiatan interaktif antara matematika dan siswa sehingga mengundang siswa untuk menjawab permasalahan melalui berbagai strategi. Proses pembelajaran open ended menggunakan empat langkah, yaitu: memberikan masalah terbuka melalui situasi fisik, merekam respon yang diharapkan dari siswa, pembahasan respon siswa dan meringkas atau menyimpulkan hasil yang telah dipelajari.