Penalaran Matematika terdiri dari pemahaman matematis, penalaran logis matematis, penalaran induktif dan penalaran deduktif
A. Pemahaman Matematis
Pembelajaran
dengan pemahaman sering menjadi bahan kajian pada riset pendidikan matematika.
Hampir semua teori belajar menjadikan pemahaman sebagai tujuan dari proses
pembelajaran. Menurut Driver (Suzana, 2003) pemahaman adalah kemampuan untuk
menjelaskan suatu situasi atau suatu tindakan. Dari pengertian ini terdapat 3 aspek pemahaman, yaitu kemampuan mengenal,
menjelaskan, dan menarik kesimpulan.
Bloom
(Russeffendi, 1991) menyatakan “Ada 3 macam pemahaman: pengubahan
(translation), pemberian
arti (interpretation), dan
pembuatan ekstrapolasi (extrapolation)”.
Dalam matematika, misalnya mampu
mengubah (translation) soal kata-kata
ke dalam simbol dan sebaliknya, mampu mengartikan (interpretation) suatu kesamaan, mampu memperkirakan (ekstrapolasi)
suatu kecenderungan dari gambar. Pemahaman translasi (kemampuan menterjemahkan) adalah kemampuan dalam memahami suatu
gagasan yang dinyatakan dengan cara lain dari pernyataan asal dikenal
sebelumnya. Pemahaman interpretasi (kemampuan menafsirkan) adalah kemampuan
dalam memahami bahan atau ide yang direkam, diubah atau disusun dalam bentuk
lain, misalnya dalam bentuk grafik, peta konsep, tabel, dan lain sebagainya.
Sedangkan pemahaman ekstrapolasi (kemampuan meramalkan) adalah kemampuan untuk
meramalkan kecenderungan yang ada menurut data tertentu dengan mengutarakan
konsekuensi dan implikasi yang sejalan dengan kondisi yang digambarkan.
Dalam pembelajaran matematika,
pemahaman translasi berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menterjemahkan
kalimat dalam soal menjadi bentuk kalimat lain, misalnya dapat menyebutkan
variabel-variabel yang diketahui dan variabel-variabel yang ditanyakan.
Pemahaman interpretasi berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menentukan
konsep-konsep yang tepat digunakan dalam menyelesaikan soal. Pemahaman
ekstrapolasi berkaitan dengan kemampuan menerapkan konsep dalam perhitungan
matematis untuk menyelesaikan soal.
Skemp (Sumarmo, 1987) membedakan dua
jenis pemahaman konsep, yaitu pemahaman instrumental
dan pemahaman relasional. Pemahaman instrumental sejumlah konsep diartikan sebagai pemahaman atas
konsep yang saling terpisah dan hanya hafal rumus dalam perhitungan sederhana.
Sebaliknya pada pemahaman relasional termuat suatu skema atau struktur yang dapat
digunakan pada penyelesaian masalah yang lebih luas.
B. Penalaran Logis Matematis
Dalam kegiatan pembelajaran terjadi
proses berfikir. Seseorang dikatakan berfikir matematis apabila orang tersebut
melakukan kegiatan mental, yang dalam prosesnya selalu menggunakan abstraksi
dan generalisasi (Hudoyo, 1988). Penalaran
sebagai proses berpikir dilakukan dengan cara tertentu untuk menarik
kesimpulan. Kesimpulan yang bersifat umum dapat ditarik dari kasus-kasus
yang bersifat individual. Tetapi dapat pula sebaliknya, dari hal yang bersifat
individual menjadi kasus yang bersifat umum (Suzana, 2003).
Ratnata
(Setiawan, 2004) mengatakan penalaran logis adalah suatu proses yang
memperlihatkan bahwa jika suatu pernyataan tertentu itu benar dan dapat
diterima, maka pernyataan tersebut dapat dijadikan dasar bagi
pernyataan-pernyataan lainnya. Berpikir logis adalah penggunaan seperangkat
pernyataan (statement) untuk
menyokong pertanyaan yang lain karena logic
merupakan proses verbal sadar, berpikir logis merupakan masalah mengemukakan
ide dalam urutan kata-kata sehingga konstruksinya kelihatan benar.
Menurut
Sumarmo (2005) bahwa beberapa kegiatan matematika yang merupakan berfikir dan
bernalar tingkat tinggi di antaranya: menemukan pola; memahami struktur dan hubungan matematika;
menggunakan data; merumuskan dan menyelesaikan masalah; bernalar analogis;
mengestimasi; menyusun alasan rasional; menggeneralisasikan; mengkomunikasikan
ide matematika dan memeriksa kebenaran jawaban.
Beberapa indikator penalaran
matematis (Sumarmo, 2005) dalam pembelajaran matematika antara lain, siswa
dapat:
1.
Menarik kesimpulan logis.
2.
Memberikan penjelasan dengan model, fakta, sifat-sifat
dan hubungan.
3.
Memperkirakan jawaban dan proses solusi.
4.
Menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis
situasi, atau membuat analogi dan generalisasi.
5.
Menyusun dan menguji konjektur.
6.
Merumuskan lawan contoh (counter example).
7.
Mengikuti aturan inferensi dan memeriksa validitas
argumen.
8.
Menyusun argumen yang valid.
9.
Menyusun pembuktian langsung, tak langsung dan
menggunakan induksi matematika.
Menurut NCTM (1989), standar
penalaran yang harus dikuasai siswa sekolah menengah antara lain:
1.
Mengingat dan menggunakan penalaran deduktif dan
induktif.
2.
Memahami dan menggunakan proses penalaran dengan
perhatian tertentu untuk penalaran spasial (tilikan ruang) dan penalaran dengan
proporsi dan grafik.
3.
Membuat dan mengevaluasi konjektur dan argumen
matematis.
4.
Memvalidasi berpikir mereka sendiri.
5.
Menyadari kegunaan dan kekuatan penalaran sebagai
bagian dari matematika
Secara
garis besar penalaran dibagi ke dalam dua jenis, yaitu:
C.
Penalaran Induktif
Penalaran
induktif adalah suatu proses berpikir yang berupa penarikan kesimpulan umum
(berlaku untuk semua/banyak) atas dasar pengetahuan tentang hal yang khusus
(fakta). Artinya dari fakta-fakta diturunkan suatu kesimpulan. Penalaran
induktif melibatkan keteraturan, misalnya kesamaan dari contoh-contoh yang
berbeda atau kesamaan pola gambar.
Soekadijo
(1999) mengatakan bahwa, penalaran induktif terdiri dari tiga jenis yaitu:
generalisasi, analogi, dan sebab-akibat. Penalaran induktif yang akan dikaji
dalam penelitian ini adalah generalisasi. Generalisasi adalah pemaparan tentang
hubungan beberapa konsep (pengertian) yang diterapkan dalam situasi yang lebih
umum. Penalaran ini mencakup pengamatan contoh-contoh khusus dan menemukan pola
atau aturan yang melandasinya.
Kesimpulan
umum yang ditarik dari jenis generalisasi induktif dapat merupakan suatu
aturan, namun dapat pula sebagai prediksi yang didasarkan pada aturan itu.
Misalnya menentukan suku dari suatu barisan bilangan atau barisan gambar.
Aturannya dapat dilihat dari jenis pola penyusunan barisan, yaitu pola berulang
atau pola tumbuh.
D. Penalaran Deduktif
Penalaran
deduktif adalah salah satu bentuk pemikiran yang biasanya digunakan untuk
menentukan pernyataan-pernyataan yang terungkap atau bisa juga untuk menyatakan
ide yang sama dengan bentuk sebaliknya. Ini adalah bentuk pemikiran yang
kesimpulannya muncul secara signifikan setelah ada pernyataan-pernyataan.
Pernyataan dalam pemikiran tersebut disebut premis-premis. Jika hubungan antara
premis-premis menghasilkan kesimpulan (konklusi) maka hubungan tersebut
dikatakan valid/sah. Validitas suatu kesimpulan berbentuk argumen dan bukan
dari kebenaran premis-premis. Argumen deduksi disebut valid/sah, bila
premis-premisnya benar maka kesimpulannya benar dan bila premisnya salah maka
kesimpulannya salah.
Penalaran deduktif menjamin
kesimpulan yang benar jika premis dari argumennya benar, dan argumennya valid
(logis). Namun demikian, boleh jadi benar hanya dalam situasi tertentu. Adapun
yang termasuk jenis penalaran deduktif, yaitu modus ponens, modus tollens, dan
silogisme.
adakah hubungan antara pemahaman konsep dan penalaran dalam matematika?
ReplyDelete